Pengaruh Karya Sastra Indonesia Terhadap Perkembangan Permainan Perkapalan Wibu

Hari ini, tepatnya pada tanggal 24 Oktober 2014, terjadi sebuah update yang mengejutkan dari salah satu permainan daring dengan nama Kantai Collection (艦隊これくしょん) yang bisa disingkat menjadi Kancolicolle (艦これ) atau saya sering menyebutnya Kancol supaya lebih mudah.

Salah satu key point dari update yang entah sudah keberapa ini menambahkan perbaruan baru untuk sebuah kapal perang dari kelas Fusou, yaitu Fusou sendiri.10703745_602283369877212_7261898402994923282_n asli

Jika dilihat sekilas, maka tidak ada yang aneh dari penampilan personifikasi kapal perang Jepang yang tenggelam besok, 70 tahun yang lalu. Tapi kemudian, salah satu pengguna jejaring sosial twitter sempat berceloteh seperti ini:

pengakuan

Semakin saya teliti, semakin jelas persamaan antara perbaruan personifikasi kapal perang ini dengan salah satu tokoh dari novel fiksi yang sempat juga dibuat adaptasi sinetronnya dan ditampilkan di layar kaca. Mungkin kalian para generasi yang sudah agak tua mengetahui siapa tokoh yang saya bicarakan ini. Ya, tokoh utama yang muncul dalam novel fiksi karya Bastian Tito.

Bagi kalian yang kesulitan membuka tautan video di atas, bisa juga melihat siapa sih tokoh yang saya bicarakan dari tadi melalui gambar di bawah ini:

Gambar diambil dari Wikipedia bahasa Indonesia

Gambar diambil dari Wikipedia bahasa Indonesia

Nama karakter tersebut ialah Wiro Sableng. Wiro Sableng terlahir dengan nama Wira Sasana, merupakan seorang ahli silat yang belajar ilmu-ilmu dari salah satu gurunya yang bernama Sinta Gendeng. Dan seperti yang terlihat pada gambar tadi, Wiro selalu membawa salah satu senjata kesukaannya yang bernama Kapak Maut Naga Geni 212.

Kapak Maut Naga Geni 212 merupakan senjata yang amat disukai Wiro, sebuah kapak bermata dua dengan tulisan “212” di masing-masing matanya dan pada bagian bawah juga terdapat sebuah ukiran mulut naga yang mampu mengeluarkan jarum-jarum beracun. Menurut seri pertamanya yang berjudul “Empat Berewok dari Goa Sanggreng”, kapak ini dibuat menggunakan logam dan gading.

Lalu… Dimana letak kesamaan antara Wiro Sableng dengan perbaruan ke-2 Fusou? Hal yang paling mencolok adalah rambut panjang dan ikat kepala berwarna putih yang sama-sama mereka gunakan.

rambut1

“Apa? Hanya karena itu? Mana signature weapon milik Wiro Sableng? Mana Kapak Maut Naga Geni 212?”

Coba kalian amati lagi gambar perbaruan kedua Fusou yang sudah terlampir pada awal artikel ini. Seperti yang sudah saya tuliskan, bahwa kapak maut naga geni 212 adalah senjata yang selalu dipegang oleh Wiro, dan ukiran naga-nya mampu menembakkan duri-duri beracun. Hal ini bisa kita kaitkan dengan salah satu hal yang selalu dipegang oleh perbaruan kedua Fusou ini.

kapak maut

Awalnya, sulit bagi saya menganggap bahwa flight deck yang dimiliki Fusou merupakan sebuah tanda implisit bahwa itu merupakan homage kepada kapak maut naga geni 212. Duri-duri beracun yang ada pada ukiran naga, berubah menjadi pesawat-pesawat yang mampu menjadi racun dan menghancurkan pasukan musuh.

Hal yang paling implisit adalah tato 212 yang ada pada dada Wiro. Tentu saja, sebagai wanita tidak mungkin kita membuka baju Fusou dan melihat apa yang ada di balik baju itu kan? Too bad, we can! And there’s nothing there. No sign of “212”. Saya hampir menyerah ketika akhirnya saya menyadari sebuah pola pada gambar perbaruan kedua Fusou ini.

212

Karena penemuan 212 ini berdasarkan pada persenjataan yang dimiliki oleh kapal perang ini, maka 212 yang ditemukan ini menjadi “ukiran” yang ada pada kapak maut naga geni 212. Sementara untuk tato 212 yang ada pada dada Wiro?

10703745_602283369877212_7261898402994923282_n asli

Ayo kita lihat damaged sprite milik kapal perang ini. Tangan kiri Fusou yang diletakkan di atas meriamnya menyimbolkan 212 dan tangan kanannya yang diletakkan di depan 212nyadadanya menandakan bahwa sakitnya tuh disini 212 yang ada pada senjata tadi juga ada pada dadanya.

Demikian penelitian singkat saya tentang pengaruh karya sastra Indonesia, tepatnya Wiro Sableng, terhadap perkembangan permainan perkapalan wibu. Saya harap, penelitian ini bisa terus dilanjutkan oleh orang-orang setelah saya, dan mampu membawa titik terang kepada permasalahan yang pelik, yaitu: jika permainan perkapalan wibu saja mampu mengambil referensi pada karya sastra Indonesia, mengapa kita sebagai orang Indonesia tidak terbiasa untuk menjadikan karya sastra negara kita sendiri menjadi makanan bacaan sehari-hari?

Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih.

ps: this is obviously a joke, if you don’t get it.

3 thoughts on “Pengaruh Karya Sastra Indonesia Terhadap Perkembangan Permainan Perkapalan Wibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s