Ulasan the Little Prince, Siapkah Kamu Untuk Dijinakkan?

KCgO_

Beberapa bulan belakangan ini, setiap saya mengunjungi bioskop pasti saya akan melihat sebuah cuplikan untuk sebuah film yang akan datang, yaitu “the Little Prince”. Saya sendiri lupa, kapan pertama kali kapan saya melihat cuplikan tersebut pertama kali, tapi yang pasti sebelum penayangan AntMan di bioskop Indonesia.

Saya menunggu dan terus menunggu, tapi film ini tidak kunjung muncul di bioskop hingga hari ini, 30 Oktober 2015.

Apa sih, film “the Little Prince” ini? Pertama kali yang membuat saya tertarik dengan film ini adalah penggunaan lagu pada cuplikannya, lagu berjudul “Salvation” yang dibawakan oleh Gabrielle Aplin. Mengingat sewaktu masih kecil saya tumbuh dengan cerita rakyat dari Jepang (Momotaro, Kintaro, dan lainnya) dan Indonesia, baru belakangan saya tahu bahwa ternyata film ini diangkat dari novela karya Antoine de Saint-Exupéry yang berjudul Le Petit Prince.

The Little Prince merupakan sebuah kisah yang menceritakan tentang makna kesendirian, persahabatan, cinta, dan kehilangan, dimana semuanya dikemas dalam sudut pandang seorang pangeran dari sebuah asteroid yang turun ke Bumi. Selama perjalanannya ke Bumi, sang pangeran akan mengunjungi beberapa planet/asteroid lainnya, bertemu orang-orang unik, dan mendapatkan banyak pelajaran berharga.

Film ini bukanlah sebuah adaptasi langsung, tapi justru mengambil latar waktu ketika sang pilot yang bertemu dengan si pangeran muda sudah ada di penghujung umurnya, tua dan sakit-sakitan. Dari cuplikan yang ditampilkan juga nampak ada karakter baru; seorang anak perempuan kecil dan ibunya yang melakukan sesuatu berdasarkan rencana-rencana yang dibuat.

Meskipun latar waktunya adalah masa “sekarang”, hampir seluruh cerita utama dari novela aslinya muncul di film ini. Hampir. Ada beberapa adegan dari cerita yang amat saya tunggu, malah tidak muncul di filmnya (akan dijelaskan di bagian penuh spoiler di bawah nanti).

Meskipun rating yang diberikan untuk film ini (paling tidak berdasarkan tulisan di salah satu bioskop) adalah “semua umur”, bagi saya film ini adalah sebuah film yang wajib disaksikan oleh semua orang tua maupun calon orang tua. Esensi dari film ini secara keseluruhan adalah bahwa kehidupan anak adalah milik anak, bukan perpanjangan tangan dari hidup para orang tua.

Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa para orang tua pasti ingin anak mereka jauh lebih sukses dalam hidup dibandingkan mereka. Tapi, terkadang ambisi orang tua untuk membuat anak mereka hidup layak justru menjadi sangkar bagi anak dan membuat mereka tidak nyaman dengan hidup mereka sendiri. Hasil akhirnya? Pemberontakan.

Film ini dibuat menggunakan 2 jenis teknik perfilman, yaitu animasi komputer 3 dimensi ketika menceritakan kehidupan sang pilot di masa kini, dan animasi stop motion menggunakan clay dan kertas berwarna saat menceritakan potongan asli dari cerita The Little Prince. Bagi saya sendiri, bagian potongan cerita The Little Prince merupakan bagian yang paling menarik, bahkan lebih menarik dari cerita “masa kini”. Mungkin hanya sentimen pribadi mengingat saya besar dengan acara-acara televisi dengan teknik serupa.

litprin

Dalam film ini, muncul karakter-karakter yang ada pada cerita aslinya tentu saja. Mawar kesayangan sang pangeran, raja yang mengklaim dirinya memiliki kendali akan segalanya, seseorang yang gila akan pujian, hingga pebisnis yang kerjanya hanya menghitung bintang, ular yang senang berbicara dengan teka-teki, hingga rubah yang menjadi teman dari sang pangeran.

Seperti yang sudah saya tuliskan di atas bahwa baru belakangan saya mengetahui tentang novela ini, dan yang membuat saya tertarik pada awalnya adalah lagu yang digunakan dalam cuplikannya. Semua itu berubah ketika saya memutuskan untuk membaca cerita sumber dari film ini. Saya bisa mengatakan bahwa kalian yang sudah membaca cerita aslinya, kemungkinan tidak kecewa pada film ini, karena ini bukanlah sekedar film adaptasi tapi justru pengembangan cerita dengan latar waktu masa kini. Bagi kalian yang belum membaca, segeralah tonton dan bandingkan dengan versi asli setelahnya.

Kekurangan dari film ini, menurut saya pribadi adalah sebagai berikut:

  • Entah karena saya terlambat beberapa menit, tapi alasan awal saya menonton film ini tidak muncul, lagu Salvation milik Gabrielle Aplin.
  • Gambar “topi” tidak muncul di bagian awal kisah masa lalu “The Little Prince”.
  • Beberapa karakter dari cerita asli mengalami pemangkasan peran.
  • Beberapa perkataan penting dari karakter sentral tidak dimunculkan.

Ini lagu yang digunakan dalam cuplikan tersebut, sebuah lagu yang menurut saya berdasarkan liriknya akan cocok digunakan saat pangeran bertemu dengan rubah.

Bagian setelah ini merupakan bagian yang mungkin akan penuh dengan spoiler baik dari novela maupun filmnya sendiri. Pastikan ada mengetahui hal tersebut, karena saya tidak mau (dan tidak bisa) bertanggung jawab jika anda membaca dan malah mengurangi pengalaman anda menonton filmnya. Saya harap kalian yang sudah menonton tapi belum sempat membaca bukunya, akan kembali ke sini untuk membaca beberapa perbedaan yang ada.

.

.

.

.

.

Saya sudah peringatkan.

.

.

.

.

.

Bagian pembuka dari novela The Little Prince bercerita mengenai seorang pilot yang sewaktu kecil tertarik untuk menggambar. Tapi selama itu, yang bisa ia gambar adalah seekor ular boa yang menelan utuh seekor gajah. Ia menunjukkan gambar tersebut kepada para orang dewasa, dan orang-orang dewasa tadi menjawab itu adalah gambar topi. Setelah sang pilot menjelaskan, para orang dewasa malah menyuruhnya untuk berhenti menggambar dan belajar hal-hal lain, yang akhirnya menuntunnya menjadi seorang pilot. Pada saat ia dipaksa belajar hal lain, sang pilot menjelaskan bahwa semua orang dewasa itu aneh, dan melelahkan bagi anak untuk terus menjelaskan semua hal pada mereka. Oh ya, hal ini tidak dimunculkan dalam film. Agak mengecewakan, mengingat filmnya lebih fokus terhadap fakta bahwa orang tua tidak seharusnya memaksa anak menjalani hidup dari para orang tua itu.

Little-prince-drawing-snake2

Sumber: Institute for Educational Advancement

Versi film dibuka dengan adegan seorang gadis kecil tanpa nama yang dipaksa oleh ibunya untuk masuk ke sebuah akademi terkemuka. Ia dipaksa menghafal banyak hal termasuk pertanyaan besar yang akan dilontarkan para penguji saat wawancara. Malang, pertanyaan yang dilontarkan justru amat berbeda dengan apa yang gadis kecil tadi hafalkan sehingga ia tidak memiliki jawaban. Karena gagal masuk akademi, mereka pun memutuskan untuk pindah dan menjalankan sebuah rencana pembelajaran agar bisa masuk akademi dengan cara lain.

Ketika mereka pindah, ternyata mereka bertetangga dengan seorang pilot tua yang memang bermasalah di lingkungan tersebut. Di perumahan yang tertata dengan rumah dan aktivitas seragam, pilot ini memiliki rumah yang berbeda, mencolok, dan jauh dari kata-kata rapih. Setelah ia merusak rumah dari sang gadis kecil dengan baling-baling pesawat tuanya, di saat itu juga petualangan bagi sang gadis kecil dimulai.

Si pilot tua mengirimkan sebuah cerita awal mengenai sang pangeran lewat sebuah pesawat kertas yang kemudian dibuang oleh sang gadis kecil, tapi belakangan ia baca setelah ia menemukan patung kecil sang pangeran dari toples koin yang diberikan sebagai ganti rugi kerusakan rumah.

Yang dituliskan lewat pesawat kertas tadi adalah masa pertemuan sang pilot dengan pangeran kecil di gurun Sahara, bagaimana sang pangeran meminta gambaran seekor domba yang akhirnya dipenuhi oleh sang pilot. 3 kali gambar sang pilot ditolak, hingga akhirnya ia menggambar sebuah kotak dan memberi tahu bahwa domba yang diinginkan sang pangeran ada di dalam kotak.

Lagi, hal yang tidak dimunculkan di film adalah penjelasan sang pilot tentang perbedaan pandangan antara orang tua dan anak. Ketika anak menceritakan tentang sebuah rumah bagus yang memiliki bunga ini itu di bagiannya, sulit untuk para orang tua melihat keindahannya. Lain cerita jika sang anak menyebutkan harga dari rumah itu, baru kemudian para orang tua berkata “oh, rumah itu pasti indah!” Sang pilot menegaskan bahwa para orang tua hanya peduli terhadap hal-hal yang bisa dihitung, yang memiliki angka.

Ketika sang gadis kecil telah membaca potongan cerita, ia memutuskan untuk bertemu dengan si pilot tua. Setelah mereka berkenalan, ia meminta lanjutan ceritanya dan sang pilot memberikannya.

Lanjutan ceritanya adalah bagaimana keseharian sang pangeran muda, menghabiskan hidupnya memperhatikan 44 matahari dalam satu hari, memangkas pohon baobabs, hingga akhirnya ia bertemu dengan sebuah mawar merah. Sang pangeran dengan giat menyiram tanaman tersebut hingga akhirnya sang mawar tumbuh besar. Merawat sang mawar menjadi kebiasaan dari si pangeran, hingga suatu hari kesombongan dan permintaan-permintaan sang mawar menjadi terlalu sulit untuk dipenuhi, dan pangeran memutuskan untuk pergi.

Perpisahan sang pangeran dan mawar di versi film dijelaskan cukup rinci, tanpa menghilangkan bagian-bagian penting. Meski begitu, ada bagian yang merupakan kesukaan saya dan tidak muncul di film.

“Of course I love you,” the flower said to him. “It is my fault that you have
not known it all the while. That is of no importance. But you– you have been
just as foolish as I. Try to be happy…”

“Tentu saja aku mencintaimu,” ujar sang bunga. “Jika kamu tidak menyadarinya, maka kesalahan ada pada diriku. Itu tidak penting. Tapi kamu– kita sama-sama bodoh. Tolong, cobalah untuk bahagia…”

Setelah sang pangeran memutuskan untuk kabur menggunakan bantuan burung-burung yang bermigrasi, ia tiba di planet lain dimana ia bertemu dengan seorang raja. Raja tersebut mengaku memiliki kendali akan semua hal di alam semesta, dan untuk itu sang pangeran meminta untuk melihat matahari terbenam. Itu akan mengingatkanku pada mawarku, ujarnya.

Di versi film, ada bagian yang tidak dijelaskan meskipun bagi saya hal ini amat penting dalam arti cerita sendiri. Sang raja akan menolak, dan bertanya pada sang pangeran:

Jika aku memerintahkan jendralku untuk terbang layaknya kupu, atau menulis drama yang tragis, atau mengubah dirinya menjadi burung, dan sang jendral gagal melaksanakan hal tersebut, siapa yang salah? Aku, atau sang jendral?

Sang raja kemudian menjelaskan bahwa untuk mendapatkan kepatuhan penuh, seorang penguasa hanya boleh memberikan perintah yang ia yakin mampu dilakukan oleh bawahannya. Karena itu, raja mengatakan bahwa matahari terbenam yang diinginkan oleh sang pangeran akan muncul ketika waktunya sudah tepat.

Pangeran melanjutkan perjalanannya hingga bertemu dengan seorang yang gila hormat. Ia mengenakan topi dan akan membukanya ketika seseorang memujinya. Di versi film, setelah dari planet tersebut pangeran akan langsung bertemu dengan pebisnis; versi novela menceritakan ada beberapa orang lagi yaitu pemabuk, penjaga lampu, dan pembuat peta. Setelah bertemu dengan semua orang-orang unik tersebut, sang pangeran lalu pergi ke Bumi.

Di Bumi, yang pertama ia temui adalah seekor ular. Dimanakah para manusia? Gurun terasa amat sepi, ujar sang pangeran. Ular menjawab bahwa manusia ada di tempat lain, dan bahwa bahkan di antara para manusia, mereka tetap merasa sepi.

Versi film mengubah beberapa hal seperti absennya bunga padang pasir dan percakapan sang pangeran dengan gema. Di versi novela, sang pangeran akan bertemu dengan kumpulan mawar terlebih dahulu, baru bertemu dengan rubah. Dalam kedua versi, sang pangerang akan merasa sedih karena mawar yang ia kira adalah satu-satunya di dunia, ternyata hanyalah mawar biasa.

Pertemuan sang pangeran dengan rubah merupakan sebuah bagian yang luar biasa penting dalam cerita The Little Prince. Ketika mereka awal bertemu, sang rubah tidak mau berteman dengan pangeran. Alasannya adalah karena ia tidak jinak. Sang rubah kemudian menawarkan pangeran untuk menjinakkannya, tapi sang pangeran tidak mengerti arti kata tersebut. Sang rubah menjelaskan:

Menjinakkan berarti membina hubungan. Saat ini kamu bagiku tak berbeda dengan ratusan lainnya, begitu juga aku bagimu. Kita sama-sama tidak saling membutuhkan. Tapi jika kamu menjinakkanku, kita akan butuh satu sama lain. Bagimu, aku akan jadi satu-satunya di seluruh dunia, dan begitu juga bagiku.

Mereka menghabiskan banyak waktu bersama, tapi sang pangeran harus terus berjalan sehingga mereka harus berpisah. Pertemuan pangeran dengan sang rubah mengajarkan padanya bahwa akan ada banyak yang sama dengan yang ia miliki, tapi yang ia miliki tetap unik. Bukan karena bentuk, tapi karena hubungan yang mereka miliki.  Akhirnya, sang pangeran bertemu dengan rubah untuk yang terakhir kalinya.

Di bagian ini juga lah menurut saya, lagu Salvation milik Gabrielle Aplin harusnya diputar. Mengingat saat mereka berpisah, sang rubah menangis. Di versi novela, sang pangeran menyatakan kepada sang rubah, bahwa ia sama sekali tidak berniat melukai sang rubah, hanya saja sang rubah memaksa untuk dijinakkan. Jika akhirnya kamu menangis, maka aku menjinakkanmu tidak memberikan hal baik! Meski begitu, sang rubah bersikeras bahwa ada hal baik dari ia dijinakkan oleh sang pangeran. Sang rubah lalu menyuruh pangeran untuk kembali melihat para mawar, dan ia akan sadar bahwa mawar yang ia miliki berbeda dengan kumpulan mawar tersebut.

Sang rubah memberikan sebuah rahasia kepada pangeran, dan rahasia itu adalah:

Hal yang penting bagi seseorang, adalah hal yang tidak terlihat lewat mata. Hal-hal yang penting, hanya bisa dilihat melalui hati.

Selain itu, rubah juga memberikan satu nasihat lagi kepada sang pangeran. Amat disayangkan bahwa kalimat ini tidak muncul di versi film, mengingat kalimat ini amat besar pengaruhnya.

Kamu, selamanya akan bertanggung jawab terhadap apa yang telah kamu jinakkan. Kamu bertanggung jawab terhadap mawarmu.

Bagian akhir dari kisah pangeran kecil adalah ketika ia memutuskan untuk “pulang” ke bintangnya, dengan cara meminta tolong pada ular untuk menyerangnya dengan bisa yang terkuat, sambil memastikan bahwa ia tidak akan menderita terlalu lama. Sang pangeran memberi tahu sang pilot bahwa satu-satunya hadiah yang bisa ia berikan sebagai kado perpisahan adalah tawa. Tawa itu akan selalu menggema ketika sang pilot memandang ke langit dan memikirkan sang pangeran. Ia juga berharap sang pilot tidak perlu datang di malam hari saat ia pulang ke tempat asalnya.

Cerita novela the Little Prince berakhir, tapi kemudian versi film mengembangkannya lagi. Mulai dari ibu sang gadis yang melarang si gadis bertemu pilot, dan gadis yang marah karena sang pilot harus “pergi” dan menyusul sang pangeran. Untuk apa? Pangeran sudah memiliki mawarnya. Tapi aku? Aku membutuhkanmu, dan aku tidak mau kamu pergi.

Cerita berlanjut dengan sang pilot yang mendadak jatuh sakit, dan dilarikan ke unit gawat darurat. Gadis kecil kemudian pergi untuk mencari pangeran dengan bantuan boneka rubah, dan pesawat yang ternyata sudah dalam kondisi siap luncur. Ia bertemu pangeran yang sudah tumbuh dewasa, sang raja yang menjadi pemencet tombol lift, hingga orang gila hormat yang menjadi polisi.

Bagian ini menceritakan pangeran dewasa yang lupa segalanya, dan baru ingat ketika ia melihat gambaran-gambaran yang dibawa oleh gadis kecil. Ketika sang pangeran bersama gadis kecil kembali ke planet asal si pangeran, planet tersebut sudah dipenuhi pohon Baobab, dan mawar yang dijaga oleh pangeran telah mati menjadi debu. Saat itu, pangeran sedikit bersedih tapi kemudian ia berkata:

Sang mawar akan selamanya hidup di dalam hati. Hal yang penting, tidak bisa dilihat hanya menggunakan mata.

Sekembalinya si gadis kecil, ia dan ibunya memutuskan untuk menjenguk si pilot sebelum berangkat melakukan ujian mereka. Ketika sudah bertemu, sang gadis menangis. Ia kini menerima fakta bahwa suatu hari, orang-orang akan pergi, dan yang penting adalah bagaimana kita selamanya akan mengingat orang-orang tersebut. Menangis itu normal, dan amat sangat diterima. Karena seperti kata si pilot:

One runs the risk of weeping a little, if one lets himself be tamed. . .

3 thoughts on “Ulasan the Little Prince, Siapkah Kamu Untuk Dijinakkan?

  1. Sebenernya adegan ular memakan gajah yg pada akhirnya terlihat seperti topi itu ada di dalam film, pada saat awal mulainya film 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s